black label...!!!

Senin, 23 Juli 2012

ORANG LUWU MEMBELA INDONESIA (REFLEKSI MASAMBA AFFAIR)


Michel Rolph Troillot, sang penulis buku: Silencing the Past: Power and the Production of History (1995), pernah menggambarkan tentang adanya permainan kekuasaan dalam penciptaan narasi alternatif dalam penulisan sejarah yang berawal pada penciptaan fakta maupun sumber. Hal ini diawali dengan pembentukan pengetahuan sejarah (historical knowledge) dan narasi-narasi besar (grand narratives).

Berpijak pada realitas empiris sejauh ini, menunjukkan bahwa historiografi nasional selalu dipandang oleh pemerintah sebagai sebuah kunci yang paling penting untuk membangun kesadaran sejarah. Asumsi ini pada gilirannya mendorong penguasa memilih (menentukan) kejadian tertentu untuk kemudian dikukuhkan menjadi peristiwa bersejarah dan penulisannya pun diberi label sejarah nasional.

Generalisasi secara konseptual, personal, spasial (ruang), dan temporal (waktu) atas peristiwa tertentu dan pelabelan secara subyektif (politisir) oleh penguasa, pun tak terhindarkan.Konsekuensinya, meski tidak ada kesepakatan secara konsensus dari rakyat tentang narasi mana yang dipilih sebagai narasi kolektif, pihak penguasa tetap mengklaim suatu peristiwa sebagai hari bersejarah yang perlu dikenang bersama.

Persoalan yang masih mengendap kemudian, yakni sampai seberapa besar kesadaran tersebut terpatri dalam dada dan pikiran masyarakat.Maksudnya, meski penguasa (negara) telah membangunan pengetahuan sejarah yang sedemikian besar, namun belum tentu dapat membentuk ingatan secara seragam.Dalam kaitan dengan itulah, pengkajian peristiwa lokal sebagai bagian integral dari sejarah nasional menjadi urgen dilakukan.

Senin, 12 Desember 2011

sajak bocah patah hati...

Pikiran adalah malam lengang. Penuh sesak oleh sajak kerinduan yang panjang seperti barisan pemuda yang mengantri untuk mati di medan perang. Tapi cinta tak pernah mengantri, bahkan untuk mati. Kerinduan lupa cara menari. Beruntung masih mengingat cara menulis. Mengentas galau dari otak kacau ke hati yang kertas.

Sampailah kita pada pencapaian yang hina. Kau mulai pintar memainkan kata-kata saat aku sibuk menyembunyikan gerimis di saku celana.

Silahkan mainkan bibir sesukamu, ungkapkan apa yang selama ini kauselipkan di balik kutangmu. Akan tetap kudengar, tapi jangan harap akan kudengarkan.

Pena terlalu usang dan terlampau runcing. Kata-kata menjadi merah. Lebih merah dari tempat sampah di pojok kamar. Berbatang yang ia sulut tak kunjung menghapus sepi atau menyembuhkan luka. Tapi selalu ada asap untuk menukar air mata. Kecewa kepada cinta. Marah kepada apa saja. Gelisah pada kata-kata.

Sampailah kita pada pemberhentian yang luka. Kau mulai pintar menimang kejujuran saat aku mulai mengenal kebohongan.

Ah, sudahlah. Aku lelah berbohong. Tapi kita memang manusia, yang tak pernah siap menerima kebenaran.

Sebatang yang tersisa. Sekali lagi, mencoba menghapus sepi. Membaca berbaris sajak lagi. Sajak rindu yang cengeng. Tiba-tiba, ada rasa ingin bunuh diri. Mengambil remote control televisi lalu menggenggamnya seperti sebuah pistol. Ujung pistol yang sebenarnya ujung remote control itu diarahkan ke pelipis, memberi pintu untuk peluru masuk ke kepala yang tolol. Konyol. Seorang bocah berimajinasi bunuh diri. Seorang bocah membunuh imajinasinya sendiri. Tentang sajak paling cengeng dan cinta yang telah mati.. .

kubunuh kau d'pagi yang mendung...

Ah, pagi yang mendung. Saat yang tepat untuk membunuhmu. Ingin rasanya aku datang ke pintumu, mengetuknya, lalu menusukkan sembilu seketika kau membukakannya untukku. Akan kunikmati saat itu. Dadamu yang berkucuran darah, jantungmu tak lagi berdetak. Tunggu ! Bukan itu yang aku inginkan. Tubuhmu tak perlu aku bunuh. Tanah niscaya akan menjamah nanti.

Ah, pagi yang mendung. Saat yang tepat untuk membunuhmu. Kau sengaja membakar mata benci di depanku yang dingin dan sepi. Aku mencintaimu tapi api-apimu tetap menjilat-jilat. Sepertinya baru kemarin kudengar kau meneriakkan namaku dalam marah. Marah yang menangis. Kulihat kala itu pupil matamu bergetar, seperti tengah terjadi perang di dalam kepalamu. Saat itu akupun berairmata, juga tertawa. Tidak mungkin kau membenciku sangat jika di dadamu tidak pernah ada cinta yang hebat.

Ah, pagi yang mendung. Saat yang tepat untuk membunuhmu. Kenangan tentangmu. Bawa sekali lagi mata benci yang pernah kau beri. Kupinjam percik apinya untuk membakar semua yang pernah terjadi. Saatnya kutuntaskan masa lalu. Masa depan sudah membunyikan peluitnya. Aku akan berangkat setelah membunuhmu.

Kubunuh kau di pagi yang mendung
Hidup adalah kereta
Dan dalam setiap perjalanan,
Orang-orang bertemu
Orang-orang tidak saling kenal lagi nanti

tentang cinta...



Mencari-cari namun tidak kunjung menemukan bisa berarti kesialan itu sendiri. Lintang merasa sial hari ini. Sudah dua hari ini dia belum beranjak dari halaman 93, dia mencoba menerjemahkan Essays on Love karya Alain de Botton. Novel yang dia dapat beberapa minggu lalu memesona hatinya sejak kalimat ketiga di halaman pertama dia baca. “Tidak bisakah seseorang dimaklumi saat meyakini akan menemukan pria atau wanita yang ditakdirkan untuknya?” kira-kira begitu Lintang mengartikannya. Lintang makin bersemangat menerjemahkan, kata ke kata, kalimat ke kalimat. Dia baca perlahan karena tidak ingin melewatkan satu pun makna. Dia percaya bahwa jodoh itu sudah ditakdirkan. Dan Lintang merasa novel ini akan menjelaskan apa yang ia yakini.

Siang yang menyebalkan. Mendung menggelayut. Dan Lintang tak kunjung menemukan makna dari variety of melting pot yang bisa memuaskannya. Google translate pun hanya mengartikannya sebagai ‘jenis pot yang meleleh’. Tidak ada yang bisa dipercaya di internet, begitu pikirnya, kesal. Kekesalan yang makin membuatnya murung hari ini. Tapi ini hari jadinya. Satu tahun berpacaran. Setelah berkali-kali berpacaran, baru kali ini Lintang mencapai satu tahun. Itu suatu keberuntungan, bukan? Lintang berusaha menenangkan diri sendiri.

Lintang sibuk dengan pikirannya sendiri, kekesalan dan kesialan hari ini. Juga kecemasan akan hujan yang mungkin saja turun nanti sore atau malam. Musim tak lagi bisa dibaca. Hujan kadang datang tiba-tiba dan berlangsung lama. Dan jika itu terjadi, maka hancurlah malam hari jadinya. Lintang sudah berencana merayakannya dengan kekasihnya.


“Tunggu kejutan yang aku siapkan untukmu.” kenang Lintang tentang sms dari kekasihnya beberapa hari lalu. Lintang tersenyum. Dia memutuskan tidur siang, menenangkan pikirannya dan berharap hujan tidak turun.
****

Mendapatkan yang terakhir terkadang menjadi keberuntungan tersendiri. Itu yang dirasakan Abe setelah menemukan buku Tentang Cinta karya Alain de Botton di toko buku keempat yang ia kunjungi dalam dua hari ini. Hanya ada satu buku tersisa di rak novel terjemahan. Abe tidak malu memamerkan senyum kemenangan kepada semua orang yang berpapasan dengannya ketika berjalan ke kasir. Dia bahkan melempar terlebih dahulu kepada penjaga kasir. Dengan raut muka heran, penjaga kasir tetap membalas senyuman Abe—keramahan yang terlatih khas penjaga kasir dan kebanyakan pelayan toko.

Sore yang seperti petang. Langit mendung. Jalanan ramai oleh kendaraan-kendaraan yang bergegas pulang. Tidak dengan Abe. Hari masih terlalu sore untuk diselesaikan dengan tergesa, pikirnya. Jikapun turun hujan, itulah hujan kemenangannya. Dia ingin berhenti tersenyum membayangkan senyuman yang akan muncul di bibir Lintang. Mampu membuat seseorang yang dicintai bahagia adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Abe merasa Lintang mungkin ingin memiliki buku ini. Abe mempercayai perasaannya dan berjanji pada diri sendiri untuk mewujudkan itu. Dan sekarang, di bawah langit yang kalah. Abe merasa menang.

Tetes hujan sampai ke tanah ketika Abe memarkir motor di depan kos. Keberuntungan yang lain, pikir Abe. Di dalam kamarnya, Abe merobek plastik pembungkus buku. Membuka halaman pertama. Tentang Cinta, Alain de Botton. Ya, mungkin memang ini tentang cinta. Dua hari keluar masuk toko buku hanya mencari sesuatu yang tidak dia butuhkan. Abe tidak pernah suka dengan buku-buku yang menuliskan percintaan. Buku-buku menggambarkan cinta dengan ironis, selalu ada yang terluka. Cinta memiliki sejuta rasa, sepuluh rasa bahagia sisanya berupa duka. Mungkin karena terlalu banyak membaca buku-buku yang seperti itu banyak orang yang merana karena cinta. Cinta bukanlah duka, menurutnya. Cinta adalah anugrah yang harus dinikmati.
****

Ketika bangun tidur, Lintang mendapati sore masih saja mendung. Tapi entah mengapa dia tidak merasa cemas hujan akan turun—mungkin karena tidur siang. Dia yakin malam ini akan menjadi malam menyenangkan. “Kadang kita hanya membutuhkan keyakinan untuk merasa nyaman,” katanya pada diri sendiri.

Lintang beranjak dari kamarnya. Kamar mandi adalah tempat yang menyenangkan baginya. Walau suasana dingin, dia tidak pernah membenci mandi. Dia biasa mandi lama sekali, kadang membuat kekasihnya menunggu lama. Namun kekasihnya setia menunggu, itu salah satu alasan Lintang yakin kekasihnya benar-benar mencintainya, benar-benar jodohnya. Lugu memang, tapi cinta selalu lugu, bukan? Selain cinta itu rela berkorban.

Setelah mandi, Lintang merasa inilah waktu yang tepat untuk melanjutkan menerjemahkan, sambil menunggu malam tiba. Semoga saja dia bisa keluar dari halaman 93 dan melewatkan malam nanti tanpa rasa penasaran pada novel. Malam yang dinanti harus sepenuhnya dinikmati.
****

Entah berapa kali Abe tersenyum hari ini. Jika senyum itu air, kamarnya pastilah banjir. Abe membuat coretan di halaman pertama, tepat di bawah huruf A dan B pada Alain de Botton. Arya Bagaskoro. Nama Abe memang diberikan oleh Lintang.

“Aku tidak mau memanggilmu Arya atau Bagas, sudah banyak teman cewekmu memanggilmu itu.” Abe mengenang perkataan Lintang ketika pertama kali memanggilnya Abe. Senyum itu muncul kembali, Abe kebanjiran kebahagiaan. “Tetaplah menjadi Lintang” tulis Abe di pojok kiri atas halaman pertama.

Mendung masih di langit. Hujan tak kunjung turun. Dan malam telah tiba. Abe menekan ujung-ujung buku Tentang Cinta, memastikan buku itu tidak berlekuk walau dia tidak membungkusnya dengan kertas kado. Abe bergegas mengantarkan buku itu, dengan semangat kemenangan. Senyuman Lintang bisa menjadi piala yang menyempurnakan hari yang telah terlalu sempurna ini.
Gerbang rumah Lintang nampak, Abe merasa makin dekat dengan kemenangan.
****

Mendung masih di langit. Hujan pun tak kunjung turun. Malam telah tiba. Walau masih belum berhasil menerjemahkan Essays on Love melewati halaman 93, Lintang masih merasa yakin bahwa malam ini akan menjadi malam istimewa. Lintang bersiap, memakai kaos putih dan menyemprotkan parfum ke tengkuk dan pergelangan tangannya. Dia berdandan. Dia ingin tampil cantik malam ini.

Lintang telah siap. Kini dia menunggu sang kekasih, sembari membayangkan kejutan apa yang akan dia terima dari kekasih. Harapnya adalah mendapatkan versi terjemahan Essays on Love. Pikirannya masih tidak bisa lepas dari novel itu.
Lintang di ruang tamu, menatap pintu. Masih menunggu.
****

Abe memarkirkan motornya, bercermin ke kaca spion. Memastikan dia tampak menawan. Bel dipencetnya. Ting Tong!!

Abe menunggu.

Pintu di buka, ibu Lintang berdiri di balik pintu.

“Selamat malam, Tant. Lintang ada?” tanya Abe.

“Malam Bagas, Lintang keluar sama Galang tuh. Barusan aja.” jawab Ibu Lintang.

“Oh, saya nitip ini buat Lintang, Tant.” Abe menyerahkan buku bersampul corak langit itu.

Abe pamit. Dia pulang dengan tersenyum. Masih merasa menang.

absurd...!!!




Sebuah kisah tentang alam antah berantah buah pikiran bedebah…
Marjinalisasi intuitif yang terus liar dalam akar belukar zakar perasaan pemuasan logika..
Dan selalu berimbuhan sebuah jawaban tentang pertanyaan, atau sebaliknya…
Dalam ritme yang terus mengalun tapi tak bisa aku nikmati..
Sekali lagi tentang keluh kesah yang aku masih enggan, atau setidaknya memang tak mau aku utarakan..
Dalam pengejewantahan pembicaraan, walaupun dengan teman sepemikiran..
Aku lebih percaya kepada tulisan untuk sekedar mengamanatkan risau hati dan pikiran yang semakin hari semakin menikam..
Lantas apa gerangan..???
Sebaiknya jangan dulu kau pertanyakan, karena aku sendiri pun masih bingung mendefinisikan..
Dan aku sadar sebenarnya bahwa definisi malah membatasi, dari pada hanya memberikan jawaban pasti…
Lagi-lagi kalau kau bertanya dan merasa tahu tentang diriku, lantas apa bedanya kau dengan mereka yang sok tahu dalam penerkaan pencarian identitas diri…
Muak aku mendengar "Masa muda adalah masa pencarian identitas diri"
Aku heran, lantas kenapa pencarian itu hanya menjadi tendensi keberpihakan waktu dalam batas usia dan sesudah itu tak pernah dipermasalahkan…
Apakah kalau sudah tua lantas berhenti proses pencarian..???
Mungkin itu sebabnya kaum tua merasa sok tahu, dan terus beronani ibadah menunggu mati, atau teman bilang hanya berjibaku untuk naik haji, hasil dari korupsi bertameng apologi ...
Dalam rangka berusaha "mengampuni diri" dan persetan dengan realitas sosial yang memanas
Karena yang terpenting adalah bagaimana aku kenyang, nyanyian perubahan bagimu adalah suara barisan sakit hati berusaha menggantikan posisi...
Akh, bukan itu sebenarnya yang aku mau utarakan....
Karena sepertinya semua juga tahu siapa itu yang brengsek....
Jangkrik terdengar mengabarkan sunyi, dan menawarkan diri untuk menemani....
Sebuah pertanyaan lain datang…
ketika berfikir dan mencoba berdiskusi dengan diri sendiri, pikiran merambah pada sesuatu konteks yang coba manusia katanya terus diperjuangkan…
Akh….Perjuangan..????
Seolah kemudian ketika selesai mengucapkan itu terus serasa menjadi pahlawan…
Dan merasa sok dramatis menjadi pejuang amatiran, ingat cerita teman nonton film nagabonar 2 bilang kalau kita perlu jadi nasionalis...
ngakak aku mendengar, kau makan saja nasionalisme itu...
Tidakkah kau melihat atas nama nasionalisme juga berapa juta nyawa manusia juga yang melayang....
Kau menimpali, bagaimana kita merdeka kalau tidak ada orang yang berfikiran nasionalis...
Aku jawab, bahwa pemikiran akan selalu dialektis, teman....
Lantas apakah kau pikir sekarang sudah merdeka..??
Selalu tertawa memang kalau aku mendengar kata-kata merdeka , perjuangan, aktivis, membela rakyat, bla..bla...bla...
Itu juga yang kau nyatakan padaku, aktivis miskin....
Aku balik tanya kau siapa itu aktivis??, kenapa kau tidak bisa menjawab..??
Tak terasa, sebentar lagi pagi...
Ayam sudah meneriakkan yel-yel setianya mengabarkan pagi...
Lagi-lagi pertanyaan lain kemudian datang….
Hilir mudik rancauan tentang hegemoni permasalahan yang aku yakin tak bisa dipecahkan dan tanpa permisi datang, kemudian masuk, meninggalakan pesan kekacuan, dan pergi lagi…
Dan datang lagi…
Dan Pertanyaan itu datang lagi…
Dan…............................

Tips Menjadi Musisi Otodidak yang Sukses

Sangat salah jika terdapat anggapan bahwa musik hanyalah milik para musisi profesional atau akademisi. Hampir seluruh celah-celah kehidupan manusia telah diisi dengan musik sejak beribu tahun lalu. Mulai dari upacara peribadatan hingga gemerlapnya hiburan malam. Kini, ketertarikan masyarakat terhadap musik kian besar. Tak hanya mendengar dan menikmati, minat untuk belajar musik saat ini sangat tinggi. Namun bagaimanakah sebaiknya, cara mempelajari musik? Ke lembaga pendidikan musik, private di rumah, atau otodidak? berikut ini Tips untuk anda.


Otodidak vs Akademis ?


Di negeri ini sebagian besar musisi yang sukses dalam industri musik adalah seorang otodidak. Sementara musisi akademis sangat jarang terlihat. Betulkah persoalan otodidak vs akademis adalah persoalan hitam vs putih? Tentu tidak sesederhana itu. Tetapi persoalan itu akan dibahas lain kali. Tetapi kenyataannya adalah bahwa mereka yang mengaku otodidak sebenarnya juga menggunakan ilmu-ilmu akademis meskipun tanpa disadarinya...

Selasa, 06 Desember 2011

Mr.Big akan mengguncang Makassar...!!!


Sumber: indonesia.travel

Sumber: indonesia.travel

Salah satu grup band papan atas dunia asal California, Amerika Serikat, yaitu Mr.Big akan menggelar konsernya di Makassar pada 10 Desember 2011. Konser akan mengambil tempat di sebelah barat parkir Trans Studio Makassar, Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, Sulawesi Selatan.

Kehadiran Mr. Big ini akan menjadi penutup rangkaian kegiatan global Arthur's Day yang dimulai di Dublin, Irlandia, pada 22 September 2011 lalu. Konser band klasik yang baru saja mengeluarkan album baru mereka bertajuk “What If”  itu akan membawa penonton bernostalgia dengan masa muda mereka.

Mr.Big yang digawangi oleh Eric Martin (vokal), Paul Gilbert (gitar), Billy Sheehan (bass), dan Pat Torpey (drums). Band ini tetap aktif dan populer selama lebih dari dua dekade, meskipun telah didera beragam konflik internal dan perubahan tren musik.  Mereka bubar tahun 2002 namun atas permintaan penggemar, akhirnya mereka bersatu kembali tahun 2009. Lagu-lagu mereka sangat dipengaruhi oleh vokal yang kuat dan harmonis. Lagu “To Be With You” dan “Green-Tinted Sixties Mind” sangat legendaris dan menjadi single nomor satu di tangga lagu di 15 negara tahun 1991.

Harga tiket untuk festival adalah Rp100.000,-. Untuk kelas tertentu seperti VVIP ditiadakan dan posisinya sama dengan penonton lain.